Jumat, 06 Januari 2012

Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia (7)


Kitab yang Tidak Masuk Akal itu Bibel, Bukan Al-Qur’an
Pada bab “Alkitab dan Al-Qur’an” buku Sang Putra dan Sang Bulan, evangelis Curt Fletemier memaralelkan ayat-ayat Bibel dan Al-Qur’an yang dipilih secara acak, lalu membandingkannya sedemikian rupa sesuai kemauannya. Dengan melepaskan dari konteks ayat (munasabatul ayat), Curlt mengomentari ayat-ayat seenaknya untuk mengesankan Bibel jauh lebih hebat daripada Al-Qur’an.



Setelah mengutip Injil Matius 5:43-44, Curlt mengutip beberapa ayat untuk membandingkan pandangan Al-Qur’an dan Bibel mengenai perang. Ayat Al-Qur’an yang dikutip antara lain: surat Al-Baqarah 216, Al-Ma’idah 33, dan At-Tahrim 9. Sedangkan ayat Bibel yang dikutip antara lain: Lukas 6:35, Yohanes 18:36, dan 2 Korintus 10:3-5.

Terhadap ayat-ayat Al-Qur’an di atas, Curl berkomentar negatif: “Ini jelas merupakan pernyataan perang  yang sangat agresif.  Sifatnya menyerang…. Namun tentu saja, orang-orang Muslim  biasa yang  mempunyai akal  sehat dan  yang tinggi nilai  kemanusiaannya, akan mengabaikan saja ayat-ayat semacam ini,” (hlm 26).
Pernyataan ini jelas melecehkan Al-Qur’an sebagai kitab yang tidak cocok bagi Muslim yang berakal sehat dan berperikemanusiaan.

Ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an adalah syariat yang indah dan masuk akal. Dalam surat Al-Baqarah 216 Allah mensyariatkan kewajiban berperang, meskipun syariat ini dibenci kebanyakan manusia. Karena setiap manusia pasti memimpikan kedamaian yang jauh dari perang, konflik dan pertumpahan darah.

Tapi dalam kondisi tertentu, perang dan pertumpahan darah justru diwajibkan untuk mewujudkan perdamaian, membela kaum tertindas, menumpas kejahatan dan kezaliman. Kepada penjajah yang terlebih dahulu melakukan penyerangan dan penganiayaan, maka Allah mewajibkan angkat senjata memerangi mereka.
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” (Qs Al-Hajj 39).

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Qs Al-Baqarah 190).

Dalam  ayat tersebut perlu digarisbawahi bahwa syariat perang ada aturan mainnya, antara lain tidak boleh dilakukan secara brutal melampaui batas. Jihad perang tetap menjunjung tinggi akhlak mulia, keadilan, kemanusiaan dan kedamaian. Beberapa syariat perang yang tidak boleh dilanggar, antara lain: tidak membunuh wanita dan anak-anak (hadits Muttafaq Alaih), tidak boleh membakar, menyiksa dan memotong-motong anggota tubuh, merusak pepohonan (HR Bukhari), dll.

Ayat-ayat syariat perang dalam Al-Qur’an itu dikesankan sadis, bengis, tidak berperikemanusiaan dan bertentangan dengan akal, karena digambarkan bila berlaku dalam kondisi apapun, termasuk kondisi damai. Ini adalah distorsi yang disengaja oleh penginjil.

Padahal, ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak bisa dilepas dari konteksnya. Dalam kondisi damai, maka ayat yang berlaku adalah ayat-ayat perdamaian. Sebaliknya dalam kondisi perang, ayat yang  harus diberlakukan adalah ayat perang, bukan ayat damai.

Pada situasi damai, ayat yang berlaku adalah ayat perdamaian: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu” (Qs Al-Mumtahanah 8).

Sedangkan dalam situasi perang, Allah memberlakukan syariat angkat senjata terhadap musuh yang terlebih dahulu melancarkan peperangan: “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Qs Al-Mumtahanah 9).

…Keindahan syariat perang inilah yang tidak dimiliki Alkitab (Bibel). Dua bagian Bibel…
Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, maka ayat-ayat yang berkaitan dengan situasi damai harus diterapkan dalam situasi damai, jangan diberlakukan pada situasi perang. Sebaliknya, ayat-ayat yang berkaitan dengan situasi perang harus diperlakukan dalam situasi perang, jangan diberlakukan dalam situasi damai.

Keindahan syariat perang inilah yang tidak dimiliki Alkitab (Bibel). Dua bagian Bibel, Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengajarkan konsep yang sangat bertentangan secara ekstrem.

Dalam Perjanjian Lama (Ulangan 20:1-20), Tuhan mewajibkan peperangan dalam satu perikop (bab) khusus yang disebut dengan “Hukum Perang.” Disebutkan bahwa dalam penyerbuan kepada musuh, terlebih dahulu harus ditawarkan perdamaian. Jika musuh menerima berdamai, maka musuh tersebut harus dijadikan sebagai budak pekerja rodi. Tapi jika musuh tidak mau berdamai, maka harus dikepung dan diperangi habis-habisan. Seluruh penduduk laki-laki harus ditumpas dengan pedang, sedang anak-anak, wanita dan hewan-hewannya boleh dijarah dan dirampas sebagai harta rampasan perang. Untuk beberapa suku lainnya, maka semua yang bernafas harus ditumpas.

Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengajarkan konsep yang sangat bertentangan secara ekstrem…
“Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan harus kau tumpas sama sekali” (Ulangan 20: 16-17).

Dibandingkan dengan syariat perang dalam Al-Qur’an yang begitu indah, siapapun akan menilai bahwa hukum peperangan dalam Bibel itu sangat sadis dan tak kenal kemanusiaan.

Sementara dalam Perjanjian Baru, Bibel mengajarkan konsep yang sangat ekstrem dengan melarang segala bentuk perlawanan, termasuk perang melawan penjahat, penjajah dan orang-orang zalim. Yesus dalam Injil memerintahkan kepasrahan total kepada penjahat.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5: 39, Lukas 6: 27-29).

Bisa dibayangkan bila ajaran kepasrahan buta dalam Bibel itu dipraktikkan. Betapa kacaunya stabilitas keamanan bila kejahatan tidak boleh dilawan.  Betapa bahagianya penjahat, penjajah dan orang-orang zalim, karena kejahatan mereka tidak ada yang melawan. Yang jahat makin jahat, yang zalim makin zalim, dan yang lemah makin tertindas bila ayat ini diamalkan.

Ayat ini tidak relevan di segala zaman, sehingga Dr FF Bruce, profesor studi Kritik Alkitab dan Eksegese di Manchester mengakui dengan jujur: “Ini merupakan perkataan keras dalam arti bahwa perkataan ini menetapkan sebuah tindakan yang tidak lazim bagi kita”. (The Hard Saying of Jesus, hal. 62).
Para pakar bibliologi Katolik memvonis ayat yang bertentangan dengan akal sehat ini sebagai ayat palsu…

Tak perlu repot-repot berpolemik, para pakar bibliologi Katolik memvonis ayat yang bertentangan dengan akal sehat ini sebagai ayat palsu: “Matius 5:39, melawan orang yang berbuat jahat kepadamu tidak ada dalam naskah Yunani” (Pengantar dan Catatan Kitab Suci Perjanjian Baru, hlm 32).

Jelaslah, betapa indahnya syariat jihad dan perang dalam Al-Qur’an. Semakin jelas pula ajaran Bibel yang tidak masuk akal, karena terdapat penyisipan (insersi) ayat-ayat tambahan. Bersambung [A. Ahmad Hizbullah MAG/suara islam]

http://baitul-maqdis.com/2011/mengkritisi-buku-penodaan-islam-di-gramedia-7.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar